Friday, February 3, 2017

Tinta hitam dan sketsa monochrome

Sendu itu datang lagi, bosan itu kembali menyeruak. Rutinitas ibarat gulungan ombak, saling sahut menyahut  hanya bisa di hentikan oleh tepian dan dinamika karang. Sedikit menarik nafas, berusaha untuk tidak tergesa-gesa dalam menghempaskannya. Sekali-kali di imbangi dengan memejamkan mata. Gelap memang, tetapi jauh di ujung memori. sedikit merindukan cahaya.

Berada pada dunia yang membutuhkan ekstra kopi dan kelebihan kreatifitas memang susah. Terlebih saya sudah sedikit melupakan doping sakti seperti kopi dan rokok. Saya menghentikan rokok karena berbagai alasan yang sedikit mengada-ngada tapi itu adanya. Dimulai dari was-was dengan gigi yang keropos di masa tua sampai ngeri terhadap teror pemerintah lewat gambar seram pada label rokok. Gambar itu cukup mengintimidasi saya, yang pura-pura gahar tetapi tetap terlalu lembut di dalam. Kopi, sesekali tetap di nikmati. Karena sensasinya yang saya belum mengerti sampai saat ini, cukup menambah gairah pada hari yang lumayan gerah. Cukup menambah ekstra tenaga pada usaha yang sudah mulai memasuki masa melemah dan berujung pada merindukan kasur lepek di kamar ukuran 3x2.

Rasa penat ini sepertinya butuh treatment  khusus. Tidak hanya kopi dan ekstra buku yang menjelma menjadi candu. Tapi harus ada ekstra toping untuk melengkapinya. Maka secara gaib tapi seksi, saya menemukan sketsa menjadi pelampiasan dalam menstabilkan dunia kreatifitas saya. Di tengah proyek yang di buru dan hampir menyentuh batas. Sketsa menjadi hal seksi yang bisa saya gerayangi. Lewat goresan tinta hitam yang terkesan sederhana namun lugas. saya mulai mebuat beberapa karya.

keterbatasan waktu dan malas menjajal teori membuat saya lebih menyukai media monocrome atau hitam putih. jauh dari kesan warna yang menggugah. tapi lewat kesederhanaan warna, saya mencoba menggali keberagaman rasa. Pada awalnya saya menemukan kembali ketertarikan terhadap sketsa. saya menggambar sebuah peninggalan sejarah. yaitu Aztek.


Jangan tanyakan saya tentang aztek dan seluruh peninggalan sejarahnya. Saya hanya akan menjawab, "silahkan mendekatkan diri kepada yang maha Google". Saya hanya bisa menjelaskan pandangan atau perasaan saya, kenapa menggoreskan pena dan tervisualisasikanlah gambar tersebut. Aztek mewakilkan perasaan saya yang mencintai sejarah dan segala peradabannya. Garis tegak lurus yang kasar di padukan dengan goresan tinta hitam, cukup menambah makna tentang sebuah usaha untuk melampiaskan kejenuhan lewat gambar.



Membelah lautan dan benua, menyingsingkan jarak dan melipat arah. Maka sampailah saya di Venice. Sebuah kota yang nyaris di makan air. Katanya ini salah satu tempat romantis. menyusuri bau air dengan gondola dengan emang-emang yang menggunakan bahasa pizza, Italia. Unsur sejarah tetap saya masukan kembali, ya begitulah saya, terlalu cinta pada sejarah. Tapi dulu malah kerap tertidur pada pelajaran sejarah. ironi, tetapi cukup ciamik untuk di kenang.

Sepertinya hormon saya sedang bergejolak, ingin memvisualkan rasa romantis pada suatu karya. Jauh-jauh saya harus main air dan  basah-basahan lewat pikiran. Garisnya masih khas tegas dan kaku, tapi sedikit elemen lengkung membuat pemanis diantara dinamis. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa pergi ke tempat ini. Memvisualkan secara nyata, menyentuh air secara nyata, dan tidak harus membayangkan bau basah secara berlebih.


Sepertinya pikiran sedang bebal, kompleksitas tertata dengan huru-hara. Ada rasa penat yang menyeruak. Semua itu tervisualisasi dengan sebuah bangunan di yaman, saling menumpuk dalam suatu tebing yang curam. Unsur kegelapan dan sudut keras hadir nyata di atas kertas. Gelap terang dari arsiran seolah berdalih dan purwarupa dari emosi yang seolah-olah di tahan dan dengan bebas di tumpahkan lewat kertas putih dan media pena hitam.


Setelah berkelana di alam imajenasi, saya kembali terhempas di dunia nyata. Kali ini saya melakukannya secara nyata. Terdampar di salah satu sudut tempat ngopi. waktu itu pacar saya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Saya keluarkan sketchbook beserta drawing pen 0,05mm dan 0,1mm. Tanpa melibatkan pinsil. Sebenarnya buka so jagoan. Cuma mengetes keraguan. Dengan menggambar tanpa pinsil, kita di paksa untuk lebih peka dan tidak takut salah. Kalaupun terjadi kesalahan, biarkan itu terjadi secara alamiah dan tak harus di sesali. Malah jadikan goresan yang salah menjadi garis baru untuk melengkapi garis yang akan di ciptakan selanjutnya.

 Hari selasa yang di berkahi cahaya yang cukup, cuaca yang nyaman dan energi positif mengarahkan saya pada sebuah toko buku. menemukan buku di rak yang tertata rapih ibarat jodoh. memilih dengan mata dan hati sambil sesekali mengendus aroma buku baru. membuat kenyang pikiran dan mengobati hasrat.
Buku yang saya pilih berupa buku tebal dengan gambar yang lebih banyak daripada deskripsi. ya begitulah buku portofolio  desain. cukup menggugah selera dan menimbulkan sumringah. ada salah satu view desain yang saya suka. sehingga saya coba mentransfernya ke dalam sebuah sketsa.


Material yang berkilau dan kaya warna di reduksi kembali menjadi monocrome. hitam putih yang selalu terlihat bijaksana. Tidak angkuh dengan keragaman tapi tetap padu dengan minimalnya warna yang di hadirkan. Selain sketsa yang benar-benar mempengaruhi suasana hati, sketsa juga kerap membantu saya dalan bekerja. dari sketsa ide  sederhana, lalu lewat sebua metode di kembangkan. maka lahirlah sebuah karya yang cukup enak di pandang.


Begitulah sketsa mengisi ruang, goresan sederhana yang cukup menarik untuk di perbincangkan. Membangun suasana, merancang ide dan mentransformasikannya menjadi visualisasi karya.
Bukan perkara warna dan rasa, tapi ini mengenai apresiasi dari sebuah alasan. Alasan untuk membungkus hal yang baru dan berjalan sinergis dengan pola rutinitas. Jadi apa monochrome itu masih terlihat membosankan ?







3 comments:

  1. Cek sound. Cek link

    ReplyDelete
  2. you made those sketches by yourself? wow! πŸ‘πŸ‘πŸ‘
    kalau bikin pameran tunggal, undangannya langsung 1 grup #1M1C ya, biar rame hehehe

    love it!
    www.iamandyna.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. agak semi kesurupan kayaknya, tiba-tiba rada serius dan cliing jadi deh tu sketsa. hehe. amin. thank doa nya. mudah-mudahan tu pameran kesampean.

      Delete

Team of Janevalla studio

cara membuat link pada gambar

Conspiracy enthusiast

cara membuat link pada gambar

Part of

cara membuat link pada gambar

Instagram

Popular Posts

New concept. Powered by Blogger.

About me

My photo
Bandung, Jawa barat, Indonesia
Menjadi seseorang yang terjun di dunia kreatifitas, membuat saya selalu menggali sesuatu yang baru. melihat dari sudut pandang yang berbeda dan mencari sampai detail terkecil. . pria kelahiran generasi 90, pernah hidup dalam masa keemasan. mencintai keluarga dalam seluruh lapisan. . suka menulis dan membaca, sebagaimana di ajarkan ibu guru sd waktu dulu, seiring perkembangan zaman menjerumuskan diri di dunia desain, khususnya desain interior.

mobilizers