Saturday, February 11, 2017

Ambiguitas dari Maaf dan Memaafkan.



Cerita 1

" Diem nggak mas!, kamu usil banget sih". Sekali lagi jeritan itu memecah keheningan,  dan seperti biasa di susul suara tawa puas mengiringi jeritan itu. Dimas selalu suka melihat Rahil yang kesal dengan kejahilannya, Selalu ada ide usil yang ia siapkan. Dari membuat kaget rahil yang begitu ekspresif, sampai seperti sekarang ini, mengganggu Rahil yang sedang ngebut ngerjain tugas  untuk di selesaikan sebelum jam pelajaran usai.

Setelah Rahil menaikan kadar jengkelnya dan akan naik level menjadi murka, barulah Dimas dengan santainya mengucap maaf, lalu ngeloyor pergi seenaknya.  Sampai tidak terasa habislah Masa SMA mereka. Entah ratusan atau ribuan kejahilan dimas yang ia tujukan khusus untuk Rahil.
Hingga suatu hari Dimas menyadari, kejailan ini bukan sekedar usil. Tapi ini seperti sebuah media untuk Dimas menyatakan perasaan yang tidak mudah ia utarakan. Dalam diam Dimas menyukai Rahil. Dimas hanya punya satu kesempatan menyampaikannya sebelum jarak memisahkan mereka. Entah takdir yang memisahkan atau memang kehendak yang menggerakan. Seperti itulah nasib di guratkan.

Setelah Acara Wisuda Sma selesai,  Dimas menghampiri Rahil, dia meminta waktu sebentar, ada yang ingin dia bicarakan. dan rahil pun mengikuti dimas ke tempat yang agak jauh dari keramaian.

Dimas : Hil, Selamat yah, akhirnya kita lulus juga, ngomong-ngomong lo jadi kuliah di jogja ?

Rahil : iyah selamat juga buat lo, ga nyangka gue selamet lulus bareng lo yang tengil, iyah jadi. lo 
jadi juga kuliah di jakarta ?.

Dimas : jadi, setengah males gue, kalo bukan paksaan ayah, gue tetep mau kuliah di Bandung.  eh ada yang mau gue omongin serius hil .

Rahil : lah, bisa juga lo serius. lo ga mau nembak gue kan ?

Rahil tertawa, tapi dimas seperti kesetrum jutaan voltase langsung dari sumber listriknya.

Rahil : mas, oooi, masss, malah ngelamun
Dimas berusaha tegar, keringat dingin keluar dari badan yang setengah rapuh dan goyah.

Dimas : Diih, kepedean lo hil, gue cuma pengen minta maaf, resmi ini mah, dari pusat otak sama perasaan gue. gue udah sering jahilin lo.

Rahil : Alhamdulillah, akhirnya lo tobat. ampir gue sumpahin jadi tutug oncom.

Dimas : seriusan gue hil, gue takut kena karma pas ntar kuliah, makanya gue abis-abisin dulu minta maaf sama lo.
Rahil : Canda kali mas, iyah gue maafin. kesel sebenernya, tapi bakal jadi kenangan masa SMA mas. buat gue ceritain sama anak cucu gue ntar. pas masa SMA ada cowok tengil sering banget jailin.
kemudian di ikuti tawa mereka bersama.

Dimas : kejauhan lo mikirnya. yaudah kita resmi damai yah. ibarat lebaran, di mulai dari nol nih.
dari kejauhan keluarga rahil memanggil. sepertinya mereka siap-siap untuk pulang.

Rahil : mas kayaknya gue cabut duluan, mamah udah manggil, sukses yah di ibu kota. terusin mimpi lo, dan jangan jahil sama cewek lain.

Dimas : hahaha, siap, lo juga sukses di jogjanya, nggak hil, cuma lo cewek yang gue jahilin. skali lagi maaf yah.

Rahil pergi meninggalkan Dimas, Dimas Cuma bisa menatap punggung Rahil, Dia harus melepaskan sesuatu yang tidak pernah ia bisa sampaikan. Setelah puas memandang Rahil yang menjauh. dimaspun pergi. dari Arah yang lain, Rahil menoleh ke belakang, sosok itu telah pergi. harapan yang pernah ia perjuangkan dan ia tunggu telah pergi.
Lalu Apa artinya Maaf ?!, Pengalihan ?. Ambiguitas ?, Pengecut ? atau Tanda titik yang tidak pada tempatnya.
=====================================End===============================

Cerita 2
Minggu pagi. di sebuah teras berukuran 2 x 1.2 m. Dengan halaman yang menghijau oleh vegetasi dan tidak lupa hamparan rumput zosya matrella yang di rawat baik oleh pemiliknya.

Dua orang anak kecil sekitaran umur 5 atau 6 tahun sedang asik bermain. Awalnya mereka bermain dengan riang, tapi etah apa yang terjadi. Mereka malah menjadi bertengkar. Anak kecil yang bernama Bobi sambil menahan tangis meneriaki anak satunya yang bernama Arya.
Arya tidak mau kalah. Dia balas meneriakinya. Dikatakannya Bobi main curang.

Dari dalam rumah, Pa Hamid datang. Dia menghampiri kedua anaknya. Ia tanyakan ada apa. Setelah mendengarkan ke dua anaknya. Terrnyata masalahnya sangat sepele. Mereka sedang bermain mobil-mobilan lalau ke dua anak itu ngotot ingin jadi pemenangna dalam perlombaan yang mereka ciptakan.

Pa hamid mengajak mereka untuk duduk bersila. Sambil menghapus sisa air mata pada kedua anaknya Pa Hamid coba kembali bertanya. Arya sambil agak terisak mulai bercerita.

"Ka Bobi main curang pa, Harusnya mobil Arya yang sampe finish duluan, tapi ka Bobi malah nabrakin mobil Arya pake mobil dia."

Arya mengakhiri kalimatnya sambil terus terisak, Pa Hamid sedikit menghela nafas. kemudian bergantian menanyai Bobi.

"Bob, bener apa yang Arya bilang ?"

Bobi  masih menunduk, seperti enggan membuka mulutnya, tapi dia juga tak kuasa untuk tidak menjawab pertanyaan bapaknya. kemudia beberapa kalimat terlontar dari mulut kecilnya.

"Bukan gitu pa, kemarin Bobi sama Arya lihat fIlm, di film itu mobil putih yang jadi Juara. Bobi cuma ingtein Arya, Harusnya mobil putih Bobi yang menang, itu aturannya"

Pa Hamid pun tersenyum melihat kepolosan kedua anaknya. Sepertinya ini momen yang pas, untuk Pa Hamid mengajarkan bekal yang berharga untuk mereka.

"Sini mendekat". Pa Hamid memeluk kedua anaknya, sekaligus mengusap-usap kepalanya".

"Nak, ketika kalian merasa sama-sama benar, tetapi dalam hati kalian merasakan ada sedikit ketidak benaran, maka jangan pernah ragu untuk saling meminta maaf, mungkin untuk sekarang kalian belum terlalu memahami arti memaafkan, tapi kelak bapak harap kalian mengerti makna kalimat ini".

Pa Hamid meminta Bobi dan Arya saling memaafkan. Mereka saling berjabat tangan. Pada Arya pa hamid berkata, "Ka Bobi cuma pengen ngingetin aturannya, tapi dia belum bisa cara nyampein yang baik, maafin ka Bobi yah" dan arya pun membalas dengan anggukan.

Pada Bobi Pa Hamid berkata. " Kamu udah bagus Bob, Bisa ngingetin adik kamu, tapi caranya yang harus di perhalus, karena dengan cara yang benar, bakal jadi sesuatu yang baik." Bobi juga membalas dengan anggukan.

Yasudah sekarang pada masuk dulu, itu ibu di dalem udah nyiapin makanan kesuakaan kalian, nasi goreng mata sapi. Mereka berlarian memasuki rumah sambil berteriak "Nasi goyeeeeeeeeeeeng ibuuuuu "

Pa hamid tersenyum melihat anaknya berlarian. Di dalam hatinya ia telah menerapkan dasar pemahaman dari meminta maaf dan memaafkan, semoga kelak anaknya semakin memahami arti yang lebih dalam.

================================== End ===============================

Dua makna memaafkan tergambar dari cerita itu. Seperti maaf yang bertransformasi menjadi maaf lain, maaf yang sbenarnya bermakna Cinta. Sebuah maaf yang tidak tersampaikan dengan sempurna.
lalu pada cerita yang ke dua, seorang bapak mengajari dasar dari kata maaf dan makna dari memaafkan. Ada makna dan tujuan besar. Dia ingin anaknya belajar merasakan kehangatan dari saling memaafkan, ada harapan kelak maaf itu tumbuh dan mekar. Memiliki anak yang berjiwa welas asih mungkin menjadi salah satu tujuan Pa Hamid, kenapa ia menabur bibit pada masa kecil anaknya.
Maka sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana kalo Kata maaf dan Memaafkan itu tak pernah tercipta dan ada ?.

Sepertinya bibit kebencian akan lebih terangsang untuk tumbuh, pemahaman tentang ego yang di biarkan menjalar bagai virus yang memasuki sel-sel kehidupan. Tidak adak lagi indahnya welas asih. Sepertinya senyum akan menjadi hambar, tidak akan pernah ada lagu-lagu sendu yang tercipta atas dasar kata maaf. Selebihnya akan ada hati yang bimbang, tentang sebuah kebingungan. Penyesalan yang tidak bisa tersalurkan. Hati yang bebal dan membatu, lalu ruang hampa yang tenggelam bersama bayang-bayang kebencian.

Entah sejak kapan maaf itu ada, kalo menelusuri literatur berdasarkan kitab, sepertinya dari zaman Adam dan Hawa maaf sudah pernah tercetuskan. Mungkin adam yang meminta maaf terhadap Tuhan atas keteledoran melanggar larangannya, atau Hawa yang minta maaf karna memaksa Adam. Atau Tuhan yang memaafkan mereka karena sifat Tuhan yang  maha pemaaf. Sejatinya maaf dan memaafkan telah tercipta ribuan hingga jutaan tahun yang lalu.

Seperti yang di rasakan maaf itu begitu cerdik dalam menyentuh sudut sensitif, maaf itu verbal yang sangat halus. Dan memaafkan itu pelajaran paling berharga dalam peradaban umat manusia.
Seperti sekarang manusia modern begitu terampil dan piawai dalam memainkan kata maaf yang harusnya mengartikan mengakui kesalahan dan melakukan sebuah permohonan, menjadikan makna yang ambigu. Dan dengan rasa maaf yang tidak jelas, saya akhiri tulisan ini. Maaf.

Original image from : http://www.huffingtonpost.com/news/forgiveness/


2 comments:

  1. Keren banget ih! Ku suka sama permisalannya. Pemilihan katanya juga pas bangett...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih dalam rangka ngulik kata mba, makasih yah udah berkunjung

      Delete

Team of Janevalla studio

cara membuat link pada gambar

Conspiracy enthusiast

cara membuat link pada gambar

Part of

cara membuat link pada gambar

Instagram

Popular Posts

New concept. Powered by Blogger.

About me

My photo
Bandung, Jawa barat, Indonesia
Menjadi seseorang yang terjun di dunia kreatifitas, membuat saya selalu menggali sesuatu yang baru. melihat dari sudut pandang yang berbeda dan mencari sampai detail terkecil. . pria kelahiran generasi 90, pernah hidup dalam masa keemasan. mencintai keluarga dalam seluruh lapisan. . suka menulis dan membaca, sebagaimana di ajarkan ibu guru sd waktu dulu, seiring perkembangan zaman menjerumuskan diri di dunia desain, khususnya desain interior.

mobilizers